Saat Fatimah r.a. wafat, jenazahnya diusung 4 orang, yaitu: Ali bin Abi Thalib (suami), Hasan dan Husin (anak), dan Abu Dzar al-Ghifary r.a. Sewaktu jenazah akan diletakkan di tepi kubur, Abu Dzar berkata kepada kubur, “Wahai kubur, tahukah kamu jenazah siapakah ini? Jenazah ini adalah Siti Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah Saw.”

Kubur pun menjawab, “Aku bukannya tempat bagi berpangkat atau bernasab, aku adalah tempat amal shaleh: siapa yang banyak amalnya, maka akan selamat, tetapi jika tidak beramal, maka dia tidak akan terlepas dariku (aku layani dia dengan seburuk-buruknya).”

Abu Laits as-Samarqandi berkata: jika seseorang ingin selamat dari siksa kubur, hendaklah melazimkan 4 perkara: menjaga shalat, bersedekah, membaca al-Qur’an, dan memperbanyak bacaan tasbih, karena semua itu dapat menyinari dan melapangkan kubur. Sebaliknya, hindari 4 perkara, yaitu: berdusta, berkhianat, mengadu-domba, dan kencing berdiri.

Rasulullah Saw. bersabda, ”Bersucilah dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu, diakibatkan karena kencing.” Seseorang tidak dijamin terlepas dari siksaan kubur, meskipun seorang alim atau anak yang bapaknya sangat dekat dengan Allah. Sebaliknya, kubur tidak memandang apakah orang itu miskin, kaya, atau berkedudukan tinggi.

Kubur akan melayani tergantung amal shaleh yang dilakukan. Jangan berpikir mampu menjawab pertanyaan malaikat Mungkar dan Nakir dengan menghafal.”Seseorang tidak dapat menjawabnya, jika tidak ada amalnya, sebab yang menjawab itu amalnya sendiri. Sekiranya dia rajin membaca Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan membelanya dan begitu juga amal yang lain.

(Sumber: Disadur dari Kisah Teladan, Islamic Electronic Book)